PENGABDIAN MASYARAKAT DI OBJEK WISATA TIRTA EMPUL, DENPASAR INSTITUTE TINGKATKAN PROFESIONALISME DAN KOMPETENSI GUIDE LOKAL

  • Dibaca: 583 Pengunjung
  • |
  • 20 Februari 2021

Sesi foto bersama antara pengelola, narasumber dan peserta pelatihan dalam Kegiatan Pengabdian Masyarakatdi Objek Wisata Tirta Empul

Objek wisata tirta empul dikenal sebagai destinasi wisata spiritual oleh wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara. Sebelum pandemi Covid-19 melanda, tingkat kunjungan bisa mencapai seribu lebih per hari ini. Salah satu penyebab objek wisata ini tetap eksis di masa pandemi ini adalah karena adanya peran guide lokal. Mereka menjadi ambasador atas keberadaan objek wisata ini. Guide lokal tetap berupaya bersikap optimis di tengah situasi yang kurang menentu saat ini. Berkaitan dengan ini, Denpasar institute sebagai Lembaga Riset & Pengembangan SDM mengadakan pengabdian masyarakat di objek wisata ini dengan mengusung tema, Profesionalisme dan Kompetensi Guide Lokal dalam Konteks Global” dan menghadirkan dua fasilitator, Dr. I Nengah Laba dan Komang Astiari, SS., M.Hum.

“Untuk terus meningkatkan profesionalisme dan kompetensi guide lokal, kami sangat mengapresiasi kegiatan pengabdian masyarakat ini,” ujar Bapak I Made Mawi Arnata, bendesa adat Manukaya Let, Tampaksiring Gianyar saat membuka kegiatan pengabdian masyarakat ini. Arnata menambahkan bahwa masa pandemi ini adalah waktu yang tepat dimanfaatkan untuk meningkatkat kemampuan komunikatif, utamanya komunikasi Bahasa Inggris para guide lokal. Kegiatan ini dapat dijadikan kegiatan rutin tahunan untuk penyegaran skill guide lokal,” ujarnya.

Made Dwija Suastana, SH., M.H., selaku direktur Denpasar institute menyampaikan terima kasih atas kerjasama dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini. “Sebagai Lembaga Riset & Pengembangan SDM yang sudah eksis dan dipercaya oleh masyarakat, kami wajib mengembalikan apa yang kami sudah peroleh ke tengah masyarakat dengan cara berbagi melalui kegiatan pengabdian masyarakat,” ungkap Dwija yang ditemui di sela kegiatan hari ini, Sabtu 20/2 di lokasi kegiatan.

“Pemilihan tema dan bentuk kegiatan pengabdian menyentuh langsung garda terdepan diawali dengan survei lapangan dan wawancara dengan stakeholder terkait, termasuk pengurus desa adat Manukaya Let. Need analysis melalui survei dan wawancara menjadi ciri khas kami di Denpasar Institute sebagai Lembaga Riset & Pengembangan SDM. Kami selalu melakukan riset lapangan sebelum menentukan kegiatan pengabdian masyarakat. Dengan cara ini, kegiatan pengabdian jadi efektif karena sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” tambah Dwija yang memiliki pengalaman kerja puluhan tahun di industri pariwisata dan perhotelan.

Dr. Laba yang membawakan materi dengan judul Profesionalisme dan Kompetensi Guide Lokal Dalam Konteks Global” menekankan pentingnya upaya penerapan konsep yadnya dalam melakoni swakarma guide local dengan tetap memperhatikan tren dan perubahan karakter tamu global. Konsep yadnya dalam konteks ini lebih pada lakon true sincerely hearted-service kepada wisatawan yang berkunjung ke objek wisata tirta empul.

“Dengan memberikan layanan yang terbaik kepada wisatawan dan kemampuan menjelaskan secara detil keberadaan tirta empul, apresiasi dari wisatawan akan didapat tidak hanya dalam wujud tip, tapi juga rekomendasi kepada teman-temannya untuk berkunjung ke tirta empul,” papar Dr. Laba yang sebelum menjadi akademisi dengan jenjang associate professor adalah seorang tour guide Bahasa Itali.

Sementara itu, Astiari Ketua Pusat Bahasa, Seni dan Budaya memaparkan peran English Skill dalam upaya menjadikan diri seorang guide lokal menjadi profesional dan kompeten. “Bahasa Inggris sudah menjadi Bahasa wajib di industri pariwisata, khususnya bagi seorang guide. Untuk itu, terminologi dan ungkapan-ungkapan tertentu Bahasa guiding perlu diketahui oleh guide lokal.” jelas Astiari di sesi pelatihan. Dia menambahkan bahwa Pusat Bahasa, Seni dan Budaya siap bekerjasama dengan DPD HPI Bali dalam menyelenggarakan pelatihan guiding untuk proses regenerasi ke depannya. Kerjasama ini penting dilakukan di tengah tantangan pekerjaan seorang guide di zaman medsos dengan tuntutan global awareness, locally competent.

“Kami yakin kegiatan pengabdian masyarakat sejenis ini akan dilakukan tiap tahun di objek wisata Tirta Empul dan atas kesepakatan kami akan adakan pelatihan guiding kepada generasi muda dari desa adat  sekitar tirta empul ke depannya. Denpasar Institute juga sedang menjajaki dan menunggu desa-desa di Bali, terutama yang sudah dan sedang mengembangkan desa wisata untuk diajak kerjasama melakukan kegiatan pengabdian masyarakat. Pun, kami siap membantu desa adat yang ingin melakukan tracer study ataupun pre-research untuk mengembangkan potensi desa adat,” ungkap Dwija ketika menutup kegiatan pengabdian ini.  

  • Dibaca: 583 Pengunjung
  • |
  • 20 Februari 2021