PENGALAMANKU MENGAWALI USAHA

  • Dibaca: 2594 Pengunjung
  • |
  • 25 April 2024
  • |
  • Kontributor: Wayan Supadno

Sumber : https://bjafarm.com/

Kawula muda, kali ini saya mengurai kisahku mengawali usaha (bisnis). Besar harapanku ini bisa jadi pemantik ” memulai ” jadi pengusaha (entrepreneur). Karena terlalu banyak yang memimpikan, tapi terlalu sedikit yang bisa mewujudkannya.

Apalagi melihat banyak sarjana bahkan alumni pascasarjana S2 hingga menganggur. Memprihatinkan. Karena berulang kali melamar ditolak, karena berebut. Mau usaha tidak tahu caranya mungkin belum ketemu Mentor Pelatih bisnisnya.

Seusai saya pendidikan di Unair Surabaya, pasca wisuda saya pernah kerja jadi karyawan di perusahaan farmasi (PMA/Inggris). Selama 2 tahun di Banjarmasin, Makassar, Palu dan Bali. Sehabis itu proses pendidikan di Akmil Magelang.

Seusai pendidikan di Magelang, lalu pendidikan Kesehatan Militer di Kramat Jati Jaktim. Lalu ditempatkan di RS Tentara dan Rindam I/BB Pematang Siantar Sumut. Jadi Komandan Tim Kesehatan di Dodiklatpur dan Guru Pelatih Militer.

Habis apel pagi, korve (kerja bakti) pembersihan kantor dan sekitarnya, 30 menit, bersama 54 anggota. Saat itu selalu ada mobil pick up lewat dengan musik kerasnya. Mereka mau ke kebun, sekitar 10 orang, sambil nyanyi lagu Batak.

Saya cari tahu rumahnya, berkunjung dan kalau libur ikut ke kebunnya. Apalagi saat berbagi gaji dan beras untuk sekitar 7 KK rumah karyawannya di tengah kebunnya. Testimoni, diam – diam ke 3 orang karyawan. Mereka bersyukur sekali bisa kerja.

Anak – anaknya penuh suka cita dan sekolah. Sejak itu, hati saya terpanggil ingin punya kebun sawit juga. Istri saya berbisik, semoga saatnya nanti kita punya 5 hektar saja cukup. Tapi saat itu, kami belum punya apapun. TV 14 inch saja belum punya. Apalagi sepeda motor, belum punya juga.

Lalu utang Primkopad Rp 700.000. Yang Rp 400.000 untuk beli Vespa Kongo tahun 1963. Yang Rp 200.000 untuk amplop ucapan ke dokter, anak pertama lahir. Yang Rp 100.000 untuk modal usaha. Ternyata 2 minggu habis buat hilir mudik. Setara Rp 1 juta saat ini.

Lalu usaha jual beli karung bekas, sekam padi, cangkang sawit, pinang, benih kacangan PJ, ikan mas dan batu kapur selama 2 tahun. Semua milik orang lain saya dagangkan. Karena belum punya modal sendiri. Semua dikerjakan oleh tim yang saya bentuk, karena saya sibuk dinas militer.

Prosesnya membangun ” Merek Perorangan “. Agar dipercaya. Agar orang yang punya barang dagangan pada senang. Agar saya boleh menjualkan. Agar saya dapat laba (untung) dari barang milik orang lain yang saya dagangkan. Agar saya punya ilmu bisnis karena sering transaksi.

Harapan lain lagi. Agar saya punya ilmu dan pengalaman memimpin dan memberdayakan orang lain yang saya bentuk untuk mengelola usaha saya. Karena saya jauh, sering ditinggal ikut latihan militer di hutan. Begitu juga proses belajar non formal melayani pelanggan agar menyenangkan.

Tiada kalah bernilainya bahwa di balik itu semua juga dapat ilmu lapangan. Bagaimana tanpa punya uang tapi bisa punya bisnis. Tanpa punya produk tapi bisa penetrasi pasar barang tidak lazim, tidak terlihat oleh orang lain. Karena limbah. Misal, sekam padi, akar kayu teh, karung bekas dan cangkang sawit.

Ilmu hikmahnya. Proses mengawali bisnis. Memang harus bisa mengatasi tanpa punya uang pun bisnis harus tetap jalan. Tanpa punya dagangan tetap bisa berdagang. Labanya bisa buat gajian para karyawan. Mendekati orang agar mau berpihak ke saya, bukan hal mudah juga. Misal saat jualan karung bekas ribuan lembar.

Kesimpulan. Kawula muda, jangan kecil hati. Besarkan hatimu. Tetap rendah hati, jangan rendah diri. Hanya karena saat ini belum bisa berkarya (menganggur). Beranilah melangkah sekarang juga. Sekali lagi, sekarang juga. Jangan tunda lagi. Awali bisnis pada kesempatan pertama.

Jangan melihat saya saat ini, misal ada kebun sawit ratusan hektar, sapi ratusan ekor, pabrik formulasi ZPT Hormax dan Pupuk Bio Extrim maupun Organox. Sangat saya syukuri bisa menggerakkan karyawan ratusan orang. Semua berawal dari kecil, proses di atas tadi. Saya dari minus Rp 700.000.

Walaupun sesungguhnya saya tidak ada apa – apanya dibandingkan orang lain. Yang saya lihat diri saya masa lalu. Menyiapkan masa depan. Hari ini berbuat nyata, hingga dirasakan manfaatnya oleh orang lain.

Sungguh bersyukur, sudah bisa memberi beasiswa ke banyak orang dan pengobatan bibir sumbing maupun operasi katarak gratis ke banyak orang, dana dari hasil usaha selama ini.

Salam Mandiri </div>
                    <ul class=

  • Dibaca: 2594 Pengunjung
  • |
  • 25 April 2024