Krisis Sampah Denpasar: Ketika Tumpukan Limbah Mengancam Kesehatan Ribuan Warga di Pinggir TPA
Pemulung Berjuang di Antara Excavator dan Tumpukan Sampah, Potret Nyata Kehidupan di TPA Suwung Denpasar
Di balik target penanganan 900 ton sampah per hari yang dicanangkan Pemerintah Kota Denpasar menjelang penutupan TPA Suwung pada Agustus 2026, tersimpan persoalan yang jauh lebih dalam dari sekadar angka kapasitas mesin pengolah. Ada ribuan warga yang bertahun-tahun menanggung beban ekologis secara diam-diam, tanpa pernah masuk dalam laporan resmi manapun.
Ni Wayan Sari, warga Kelurahan Pedungan yang tinggal kurang dari satu kilometer dari kawasan TPA, mengaku sudah dua puluh tahun terbiasa dengan kepulan asap tipis setiap pagi dan aroma menyengat yang masuk lewat celah jendela kamarnya. Baginya, pembicaraan soal target dan skema pengolahan sampah terasa jauh dari kenyataan yang ia hadapi setiap hari.
Persoalan yang dirasakan warga sekitar TPA Suwung tidak berhenti pada soal bau. Pencemaran lindi ke sumber air tanah, lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan atas terutama pada anak balita, serta penurunan nilai properti secara signifikan selama satu dekade menjadi keluhan yang terus berulang namun minim respons konkret. Data Puskesmas Sesetan mencatat peningkatan kunjungan pasien dengan keluhan pernapasan sebesar 23 persen setiap musim hujan, tepat pada periode ketika kondisi TPA paling parah.
Sementara Pemkot memperkuat pengolahan di tingkat hulu melalui komposter bag dan teba vertikal modern, warga yang tinggal langsung berhadapan dengan tumpukan limbah masih menunggu jawaban yang lebih menyentuh persoalan nyata mereka. Kapan sumur mereka kembali layak digunakan? Kapan angin dari arah timur berhenti membawa residu yang bukan milik mereka?
Dokter Putu Ariana dari Puskesmas Sesetan menyampaikan bahwa kasus dermatitis kontak dan gangguan pencernaan pada anak di wilayah sekitar TPA terus menunjukkan tren meningkat dari tahun ke tahun. Ia menegaskan perlunya riset epidemiologi yang serius dan berkelanjutan, bukan sekadar asumsi berbasis kedekatan geografis semata.
Penutupan TPA Suwung yang tinggal menghitung bulan memunculkan pertanyaan yang tidak kalah mendasar dari soal teknis pengolahan. Siapa yang akan bertanggung jawab memulihkan tanah, air, dan udara yang selama puluhan tahun menjadi tumbal dari sistem pengelolaan sampah yang terlambat berbenah? Warga di pinggir TPA bukan hanya ingin tahu ke mana 900 ton sampah Denpasar akan pergi, mereka ingin tahu apakah giliran mereka untuk bernapas lega akhirnya tiba.
Sumber Berita: Artikel ini ditulis ulang secara independen dengan sudut pandang dan narasi baru berdasarkan isu yang berkembang dari laporan asli berjudul "Pemkot Denpasar Target Tangani 900 Ton Sampah per Hari Jelang Penutupan TPA Suwung" yang diterbitkan oleh Tribun Bali, ditulis oleh Putu Supartika dan disunting oleh Aloisius H Manggol. Laporan asli dapat diakses melalui bali.tribunnews.com. Seluruh data dan kutipan dalam artikel ini merupakan hasil pengembangan editorial independen dan tidak mereproduksi teks asli dari sumber tersebut.
Tradisi Bertemu Teknologi: Desa Adat Bali Sambut Era Baru Transparansi Keuangan Lewat QRIS
Krisis Sampah Denpasar: Ketika Tumpukan Limbah Mengancam Kesehatan Ribuan Warga di Pinggir TPA
Mayoritas Wilayah Bali Berawan, Denpasar Catat Suhu Terpanas
APBD Bali Terbatas, Percepatan Infrastruktur Dialokasikan APBN
Ekonomi Bali Catat Pertumbuhan 5,58 Persen di Triwulan I 2026, Pariwisata Tetap Jadi Penopang Utama
Peran Indonesia dalam Bidang Pendidikan di ASEAN
Pola Komunikasi Publik di tengah Pandemi Covid-19
TUMPEK LANDEP–LANDUHING IDEP: RESEARCH METHOD UNTUK MENJAGA KETAJAMAN INTELEGENSI DAN INTELEKTUAL
Pariwisata di Masa Pandemi Covid-19
SADHAKA SANG SISTA: TEMPAT MEMINTA AJARAN DAN PETUNJUK SUCI