Leksikografi Pariwisata dan Ritual Kapitalisme dalam Pengembangan Destinasi Wisata

  • Dibaca: 378 Pengunjung
  • |
  • 26 Mei 2026
  • |
  • Kontributor: I Nengah Laba

Prof. Dr. I Nengah Laba, Guru Besar Fakultas Pendidikan dan Humaniora Universitas Dhyana Pura

Pulau Bali kerap diposisikan dalam imajinasi global sebagai ruang spiritual yang harmonis; manusia, alam, dan Tuhan hidup dalam keseimbangan Tri Hita Karana. Namun, di balik lanskap yang puitis itu, Bali sesungguhnya sedang berada dalam pergulatan besar antara spiritualitas budaya dan ekspansi kapitalisme pariwisata.

Pengembangan KEK Kura-Kura Bali di Pulau Serangan menjadi salah contoh viral saat ini dari pergulatan dimaksud. Kawasan ini diproyeksikan sebagai destinasi wisata modern dan terintegrasi yang akan memperkuat ekonomi Bali melalui investasi. Narasi pembangunan dikemas dengan bahasa yang progresif, yakni destinasi kelas dunia, green economy, transformasi ekonomi Bali hingga pariwisata berkelanjutan.

Pulau Serangan bukan sekadar ruang ekonomi. Di kawasan ini berdiri Pura Sakenan dan sejumlah ruang sakral yang menjadi bagian penting perjalanan spiritual masyarakat Bali. Karena itu, proyek pembangunan tersebut memunculkan pro dan kontra. Pemerintah dan investor melihatnya sebagai simbol modernisasi, sementara masyarakat adat dan aktivis memandangnya sebagai ancaman terhadap ruang hidup, ekosistem pesisir, dan kesucian kawasan spiritual.

Laba (2026) menyebut fenomena ini sebagai leksikografi pariwisata, yakni praktik penggunaan bahasa dan narasi untuk membangun legitimasi pembangunan wisata di kawasan geografis tertentu. Bahasa pembangunan dibuat sedemikian halus sehingga modernisasi tampak sebagai kebutuhan yang perlu dijalankan.

Leksikografi pariwisata seperti revitalisasi, kawasan wisata berkelanjutan, atau pemberdayaan masyarakat terdengar etis dan menenangkan. Bahasa akhirnya tidak lagi sekadar alat komunikasi, tetapi menjadi instrumen leksikalisasi kawasan geografis untuk dan demi melangsungkan ritual kapitalisme dalam mengembangkan destinasi wisata.

Berbagai 'ritual' kapitalisme modern tidak datang dengan merusak kawasan suci secara langsung, melainkan dengan mengadopsi simbol-simbol spiritual untuk kepentingan industri wisata. Dalam konteks ini, ritual kapitalisme dimaknai sebagai pola aktivitas ekonomi dan sosial untuk mempertahankan keuntungan industri wisata. Kapitalisme menciptakan ritual konsumsi yang terus direproduksi melalui promosi dan media.

Destinasi wisata dipasarkan sebagai simbol gaya hidup, prestise, dan identitas sosial. Wisatawan didorong untuk terus mengonsumsi pengalaman baru. Pun, spiritual dipromosikan sebagai atraksi budaya, ketenangan Bali dijual sebagai pengalaman healing, dan kawasan geografis di area selatan dijadikan lanskap visual promosi investasi. Akibatnya, Bali menghadapi paradoks. Spiritualitas tetap dipertahankan, tetapi sekaligus dikomodifikasi demi sebuah ritual kapitalisme.

Bagi masyarakat Hindu Bali, ruang sakral bukan ornamen wisata. Ia adalah pusat hubungan manusia dengan alam dan kehidupan spiritualnya. Karena itu, kritik terhadap KEK Kura-Kura Bali sesungguhnya bukan penolakan terhadap pembangunan, melainkan kegelisahan agar Bali tidak kehilangan rohnya sendiri di tengah ambisi modernisasi pariwisata.

Bali tentu membutuhkan destinasi wisata baru dan pertumbuhan ekonomi. Namun, pembangunan tidak boleh hanya tunduk pada logika pasar. Jalan tengah perlu dibangun melalui perlindungan mutlak kawasan suci, pelibatan penuh masyarakat adat dalam pengambilan keputusan, dan transparansi bahasa pembangunan yang tidak menutupi dampak sosial dan ekologisnya.

Penulis,
I Nengah Laba

Pemerhati Masalah Sosial dan Bahasa
Guru Besar Fakultas Pendidikan dan Humaniora, Universitas Dhyana Pura
https://orcid.org/0000-0002-1520-3463 

  • Dibaca: 378 Pengunjung
  • |
  • 26 Mei 2026