Perkuat Tata Kelola Pariwisata Berkelanjutan, Dosen UNDHIRA Dorong Implementasi Sapta Karya Pariwisata di DTW Jatiluwih
Study Sharing dan Diskusi Sapta Karya Pariwisata Indonesia di Destinasi Wisata Jatiluwih pada Selasa, 21/07/2026
TABANAN, Bali — Penguatan tata kelola destinasi wisata tidak cukup hanya bertumpu pada keindahan alam dan daya tarik budaya. Di tengah dinamika industri pariwisata yang semakin kompetitif, destinasi membutuhkan inovasi, kolaborasi multipihak, transformasi digital, penguatan kapasitas sumber daya manusia, serta pemberdayaan masyarakat agar mampu berkembang secara berkualitas dan berkelanjutan.
Semangat tersebut menjadi landasan pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Dhyana Pura (UNDHIRA) Bali melalui Study Sharing and Discussion di Kantor Pengelola Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kabupaten Tabanan, Selasa (21/7/2026).
Mengangkat tema “Sapta Karya Pariwisata Indonesia: Konsep Normatif, Implementatif, dan Operasional untuk Strategi Penguatan Manajemen Daya Tarik Wisata Jatiluwih Tabanan-Bali”, kegiatan ini menjadi ruang akademik dan praktis untuk mempertemukan perspektif perguruan tinggi dengan pengalaman pengelola destinasi dalam merumuskan strategi penguatan tata kelola DTW Jatiluwih.
Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yaitu I Nengah Rata Artana, S.Sn., M.Sn., M.M. dan I Ketut Rudia, S.E., S.H., M.M. Materi yang disampaikan menitikberatkan pada penerjemahan Sapta Karya Pariwisata Indonesia ke dalam strategi pengelolaan destinasi melalui inovasi, kolaborasi, transformasi digital, pemberdayaan UMKM, serta penguatan aspek budaya dan lingkungan.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran manajemen DTW Jatiluwih, yakni Manajer I Ketut Purna, Sekretaris I Putu Eka Saputra, Asisten I Manajer I Wayan Suwiarka, Asisten II Manajer I Gede Made Alitoyo Winaya, Kepala Divisi Administrasi dan Keuangan I Wayan Wira Dharma, Kepala Divisi Promosi dan Pemasaran Ni Made Riant Indah Oktaviya, Kepala Divisi Perencanaan dan Pengembangan I Gede Made Ardana, serta Kepala Divisi Keamanan dan Parkir I Gede Putu Ade Purnama Pradipta.
Sebagai salah satu destinasi unggulan Bali dan bagian dari lanskap budaya yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, DTW Jatiluwih memiliki tantangan sekaligus peluang besar dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan konservasi, pelayanan wisatawan, pengembangan ekonomi lokal, dan keberlanjutan sosial-budaya.
Saat ini, pengelolaan DTW Jatiluwih didukung sekitar 60 orang karyawan yang menjalankan berbagai fungsi operasional kawasan sekaligus memberikan pelayanan kepada wisatawan.
Dalam pemaparan pertama, I Nengah Rata Artana menjelaskan bahwa Sapta Karya Pariwisata Indonesia dapat ditempatkan sebagai kerangka konseptual yang memberikan arah normatif, implementatif, hingga operasional dalam pembangunan kepariwisataan.
Menurutnya, pembangunan pariwisata perlu menempatkan alam sebagai fondasi, budaya sebagai jiwa, dan manusia sebagai pelaku utama. Ketiga aspek tersebut harus diperkuat melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan, keseimbangan dimensi ekonomi-sosial-lingkungan, serta inovasi yang dilakukan secara berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa konsep pembangunan pariwisata tidak boleh berhenti pada tataran teoritis.
“Sebuah konsep tidak boleh berhenti sebagai teori, tetapi harus diyakini dan diterapkan secara nyata agar mampu melahirkan kreativitas dan inovasi dalam pengelolaan destinasi wisata.”
Menurutnya, destinasi yang mampu berinovasi secara konsisten akan memiliki kemampuan lebih besar dalam menciptakan pengalaman baru bagi wisatawan. Inovasi tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sepenuhnya baru, tetapi dapat dilakukan dengan memperbarui cara mengemas potensi yang telah dimiliki sehingga menghasilkan pengalaman wisata yang lebih bermakna.
Lebih lanjut, I Nengah Rata Artana menekankan bahwa pengembangan destinasi harus selaras dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs). Pariwisata tidak semata-mata diukur dari jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pelestarian lingkungan, perlindungan budaya, penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi lokal, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Karena itu, pembangunan pariwisata membutuhkan sinergi pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, komunitas, dan masyarakat.
Dalam konteks Jatiluwih, pendekatan kolaboratif menjadi semakin penting karena kawasan ini tidak hanya memiliki nilai ekonomi pariwisata, tetapi juga menyimpan nilai ekologis, sosial, budaya, dan spiritual yang harus dijaga secara bersama-sama.
Sementara itu, I Ketut Rudia pada sesi kedua mengelaborasi aspek implementasi Sapta Karya Pariwisata, khususnya dalam penguatan UMKM dan modernisasi pengelolaan DTW Jatiluwih.
Menurutnya, pengembangan destinasi perlu diikuti dengan transformasi digital agar pelayanan wisatawan menjadi lebih mudah, cepat, efisien, dan transparan.
Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah sistem penjualan tiket. Sistem konvensional masih digunakan di sejumlah destinasi sehingga diperlukan pengembangan sistem tiket daring yang terintegrasi dengan platform pembayaran digital.
Pemanfaatan teknologi tersebut bukan hanya memberikan kemudahan bagi wisatawan, tetapi juga dapat mendukung pengelola dalam memperoleh data kunjungan, meningkatkan efisiensi administrasi, serta memperkuat transparansi tata kelola destinasi.
Selain digitalisasi layanan, I Ketut Rudia menekankan pentingnya membangun entrepreneurial mindset di kalangan masyarakat, terutama generasi muda. Menurutnya, keberhasilan pengembangan destinasi harus memberikan dampak nyata terhadap ekonomi masyarakat sekitar.
“Ada gula ada semut. Ketika destinasi wisata berkembang, maka aktivitas ekonomi masyarakat akan ikut tumbuh. Karena itu, penguatan UMKM menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan pariwisata,” ujarnya.
Ia kemudian memperkenalkan Road Map Pemberdayaan UMKM, yang diarahkan melalui beberapa tahapan strategis, antara lain penguatan edukasi berbasis budaya dan adat, pengembangan koperasi dan kemitraan, pemanfaatan ekosistem digital melalui QRIS dan promosi digital, serta penerapan sertifikasi hijau untuk mendukung Jatiluwih sebagai destinasi berkelanjutan.
Dalam sesi diskusi, Manajer DTW Jatiluwih I Ketut Purna menyambut positif materi yang disampaikan dan berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari kolaborasi yang lebih intensif antara UNDHIRA Bali dan pengelola DTW Jatiluwih.
Ia mengungkapkan bahwa Jatiluwih memiliki berbagai potensi produk lokal yang dapat dikembangkan menjadi produk wisata bernilai tambah, salah satunya beras merah Jatiluwih.
“Kami memiliki produk unggulan seperti beras merah Jatiluwih. Kami berharap bapak-bapak dapat membantu memberikan arahan agar produk-produk kami menjadi lebih kreatif dan memiliki nilai tambah. Dari sisi operasional kami mampu menjalankan, tetapi untuk pengembangan konsep, inovasi, dan strategi kami masih membutuhkan pendampingan dari akademisi,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan untuk memperkuat hubungan antara potensi lokal, inovasi produk, branding, pemasaran, dan pengalaman wisata. Produk lokal tidak hanya diposisikan sebagai komoditas, tetapi dapat dikembangkan menjadi bagian dari identitas dan tourist experience Jatiluwih.
Misalnya, beras merah dapat dikembangkan lebih jauh melalui narasi mengenai Subak, pertanian tradisional, lanskap budaya, proses produksi, kuliner lokal, hingga produk kreatif yang dapat menjadi souvenir atau bagian dari paket wisata edukatif.
Selain aspek produk dan digitalisasi, I Ketut Purna juga menyoroti pentingnya dukungan regulasi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan lokal, termasuk pemerintah desa, pekaseh Subak, dan bendesa adat.
Menurutnya, regulasi yang jelas diperlukan untuk memastikan pengembangan kawasan wisata, pemberdayaan UMKM, perlindungan kepentingan masyarakat, serta pelestarian sistem Subak dapat berjalan secara seimbang dan berkelanjutan.
Hal ini menjadi penting karena keberlanjutan Jatiluwih tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sistem Subak sebagai warisan budaya dan sistem pengelolaan sumber daya air yang menjadi bagian integral dari lanskap budaya kawasan.
Dengan demikian, penguatan tata kelola destinasi membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada manajemen pariwisata, tetapi juga memperhatikan governance, kelembagaan lokal, konservasi, dan partisipasi masyarakat.
Menanggapi berbagai kebutuhan tersebut, kedua narasumber menyatakan kesiapan untuk melanjutkan kolaborasi dengan pengelola DTW Jatiluwih melalui pendampingan akademik, peningkatan kapasitas SDM, pengembangan produk wisata, serta inovasi tata kelola destinasi.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat berkembang dari kegiatan study sharing menuju program pendampingan yang lebih terstruktur, sehingga rekomendasi akademik dapat diterjemahkan menjadi inovasi dan program kerja yang aplikatif.
Bagi perguruan tinggi, kegiatan PkM seperti ini menjadi ruang penting untuk menerapkan pengetahuan akademik sekaligus memperoleh pemahaman empiris mengenai persoalan yang dihadapi destinasi. Sebaliknya, bagi pengelola destinasi, keterlibatan akademisi dapat menjadi sumber pengetahuan, inovasi, dan perspektif baru dalam menghadapi perubahan industri pariwisata.
Melalui kegiatan ini, dosen UNDHIRA Bali mendorong agar implementasi Sapta Karya Pariwisata Indonesia tidak berhenti sebagai konsep normatif, tetapi diterjemahkan ke dalam kebijakan, program, dan tindakan operasional di DTW Jatiluwih.
Penguatan tata kelola, digitalisasi layanan, pengembangan UMKM, peningkatan kapasitas SDM, inovasi produk, perlindungan budaya, konservasi lingkungan, serta penguatan kelembagaan lokal perlu ditempatkan sebagai bagian dari satu ekosistem pengembangan destinasi.
Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah, pengelola destinasi, desa adat, Subak, pelaku UMKM, komunitas, dan masyarakat menjadi modal strategis untuk memastikan bahwa perkembangan pariwisata Jatiluwih memberikan manfaat ekonomi tanpa mengorbankan nilai ekologis dan budaya yang menjadi kekuatan utamanya.
Pada akhirnya, kekuatan Jatiluwih bukan hanya terletak pada keindahan lanskap sawah teraseringnya, tetapi pada sistem sosial, budaya, pengetahuan lokal, dan masyarakat yang menjaga serta menghidupkan lanskap tersebut.
Karena itu, pengembangan Jatiluwih ke depan perlu diarahkan bukan sekadar menjadi destinasi yang semakin ramai dikunjungi, tetapi menjadi destinasi yang semakin berkualitas, berdaya saing, berakar pada budaya lokal, memberikan manfaat bagi masyarakat, dan mampu mempertahankan keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang.
Akurasi Data Mutlak: Pusat Sains Data Denpasar Institute Buka Short Course Statistik bagi Peneliti Pemula
Denpasar Institute Dorong Optimalisasi Institutional Repository untuk Tranformasi Digital Lembaga Pendidikan
Denpasar Institute Buka Akses Kolaborasi Riset Lintas Sektor Berbasis Mixed-Methods
Denpasar Institute Komitmen Tingkatkan Angka Publikasi Ilmiah Nasional Melalui Program Inkubasi Naskah
Bedah Metodologi: Layanan Konsultasi Denpasar Institute Pastikan Kualitas Tulisan Ilmiah Lolos SINTA dan Scopus
Peran Indonesia dalam Bidang Pendidikan di ASEAN
Pola Komunikasi Publik di tengah Pandemi Covid-19
TUMPEK LANDEP–LANDUHING IDEP: RESEARCH METHOD UNTUK MENJAGA KETAJAMAN INTELEGENSI DAN INTELEKTUAL
Pariwisata di Masa Pandemi Covid-19
SADHAKA SANG SISTA: TEMPAT MEMINTA AJARAN DAN PETUNJUK SUCI