Tourist Experience melalui Inovasi Cooking Class From Farmer to Table di Desa Wisata Panji
Ketua Tim Pengabdi Undiksha, Dr. Nyoman Dini Andiani menyerahkan seperangkat peralatan Cooking Class kepada Anggota Pokdarwis Desa Panjik, Singaraha pada Sabtu, 15/8/2026
Ketua Tim Pengabdi Undiksha, Dr. Nyoman Dini Andiani, menjelaskan bahwa pengembangan desa wisata perlu bergerak dari paradigma sightseeing tourism menuju pariwisata berbasis pengalaman (experience-based tourism).
“Penguatan produk dan aktivitas wisata yang mampu memberikan pengalaman langsung kepada wisatawan menjadi bagian penting dalam pengembangan Desa Wisata Panji. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga ikut terlibat, belajar, berinteraksi, dan merasakan kehidupan masyarakat desa,” ungkapnya.
Melalui program Desa Binaan Undiksha, masyarakat Desa Panji mengembangkan paket cooking class yang memanfaatkan potensi pertanian dan pangan lokal sebagai sumber utama aktivitas wisata.
Keunikan cooking class ini terletak pada proses pengolahan bahan pangan lokal, termasuk berbagai buah-buahan tropis yang diolah menjadi hidangan bercita rasa khas Bali. Bahan-bahan tersebut kemudian dipadukan dengan racikan bumbu tradisional Bali dan diolah secara langsung oleh wisatawan bersama masyarakat.
Konsep tersebut menjadikan kegiatan memasak bukan sekadar aktivitas kuliner, tetapi sebuah produk wisata edukatif dan berbasis pengalaman. Wisatawan diperkenalkan pada bahan pangan lokal, cara memilih dan mengolahnya, teknik memasak, penggunaan bumbu tradisional, serta cerita dan pengetahuan lokal yang menyertai setiap hidangan.
Dengan demikian, konsep from farmer to table menciptakan alur pengalaman yang menghubungkan potensi pertanian, pengetahuan masyarakat, gastronomi lokal, budaya, dan pariwisata dalam satu rangkaian aktivitas.
Konsep tersebut mendapatkan respons positif dari wisatawan mancanegara. Jennifer dan Haneella, dua wisatawan asal London, menunjukkan ketertarikan terhadap cara masyarakat Desa Panji mengolah bahan pangan lokal menjadi hidangan dengan cita rasa khas Bali.
Menurut mereka, pengalaman mengolah buah-buahan menjadi hidangan bercita rasa sayuran merupakan sesuatu yang unik dan berbeda dari pengalaman kuliner yang biasa mereka temui. Aktivitas tersebut juga membuka wawasan mengenai kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan pangan lokal.
Lebih dari sekadar menikmati makanan, keterlibatan langsung dalam proses memasak memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk memahami proses, pengetahuan lokal, budaya, dan cerita di balik makanan yang mereka konsumsi.
Pengalaman semacam ini menjadi semakin penting dalam pengembangan pariwisata kontemporer, ketika wisatawan tidak lagi hanya mencari objek untuk dikunjungi, tetapi juga mencari pengalaman yang autentik, personal, dan memiliki makna.
Konsep from farmer to table di Desa Wisata Panji dikembangkan dengan semangat untuk mendekatkan wisatawan pada sumber daya lokal. Wisatawan diajak memahami bahwa makanan yang tersaji bukan sekadar produk akhir, tetapi merupakan bagian dari perjalanan panjang yang berkaitan dengan alam, pertanian, pengetahuan lokal, tradisi kuliner, dan kehidupan masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, cooking class dapat menjadi media interpretasi budaya. Setiap bahan pangan, bumbu, teknik pengolahan, maupun hidangan yang dihasilkan dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan nilai-nilai lokal Desa Panji dan budaya Bali secara lebih luas.
Konsep ini sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan local food value chain, sehingga potensi pertanian tidak hanya memiliki nilai ekonomi sebagai komoditas, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi bagian dari produk dan pengalaman wisata bernilai tambah.
Dari sisi aktivitas wisata, Desa Panji juga memiliki pengalaman budaya seperti menggoa-goakan dan karapan sapi, yang menjadi bagian dari kekayaan atraksi berbasis masyarakat.
Kehadiran cooking class memberikan pilihan pengalaman baru yang lebih partisipatif. Wisatawan dapat mengikuti rangkaian aktivitas mulai dari mengenal bahan pangan lokal, memahami proses pengolahan, memasak bersama masyarakat, hingga menikmati hasil masakan dalam suasana pedesaan.
Dengan demikian, Desa Wisata Panji tidak hanya menawarkan things to see, tetapi semakin memperkuat unsur things to do, things to learn, dan things to experience.
Bagi masyarakat, pengembangan cooking class juga menjadi bagian dari proses peningkatan kapasitas dan kemandirian dalam mengelola potensi desa. Komang Ariani, salah satu anggota Pokdarwis Desa Panji, menyampaikan apresiasinya terhadap pendampingan yang terus dilakukan oleh Undiksha. “Terima kasih kepada Ibu Dr. Dini melalui program Undiksha Berdampak yang senantiasa membersamai dan mendampingi Desa Panji. Pendampingan ini sangat membantu kami dalam mengembangkan potensi yang ada di desa menjadi produk dan aktivitas wisata yang lebih menarik dan memiliki nilai jual,” ungkap Komang Ariani.
Pendampingan berkelanjutan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong transformasi masyarakat dari sekadar pelaku pendukung pariwisata menjadi kreator, pengelola, sekaligus pemilik nilai ekonomi dari produk wisata yang dikembangkan.
Melalui proses pendampingan, masyarakat tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga didorong untuk memahami bagaimana sebuah potensi lokal dapat dikemas, dipasarkan, dan dikembangkan menjadi pengalaman wisata yang memiliki daya saing.
Selanjutnya, paket cooking class From Farmer to Table akan terus diperkuat dari aspek desain aktivitas, standar pelayanan, narasi interpretasi, kesiapan sumber daya manusia, dan strategi pemasaran sebelum diluncurkan oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Panji sebagai salah satu produk unggulan baru.
Pengembangan ini diharapkan dapat memberikan manfaat ganda. Bagi wisatawan, cooking class menghadirkan pengalaman yang autentik dan berkesan. Bagi masyarakat, produk ini membuka peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat apresiasi terhadap pangan, budaya, dan pengetahuan lokal.
Lebih jauh, inovasi tersebut menunjukkan bahwa kekuatan desa wisata bukan hanya terletak pada apa yang dimiliki, tetapi pada bagaimana potensi tersebut dikembangkan menjadi pengalaman yang bermakna dan bernilai bagi wisatawan maupun masyarakat.
Melalui interaksi langsung antara wisatawan dan masyarakat, aktivitas memasak dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan, budaya, cerita, dan nilai kehidupan. Wisatawan tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga memahami bagaimana masyarakat memproduksi, mengolah, berbagi, dan memaknai makanan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan semangat tersebut, Desa Wisata Panji terus bergerak dari “destination to visit” menuju “destination to experience”—sebuah destinasi tempat wisatawan tidak hanya datang untuk melihat, tetapi juga untuk belajar, berinteraksi, terlibat, dan membawa pulang pengalaman autentik yang lahir dari kehidupan masyarakat lokal.
Inovasi Cooking Class From Farmer to Table menjadi salah satu langkah konkret dalam mewujudkan desa wisata yang berbasis masyarakat, berakar pada potensi lokal, inovatif dalam pengembangan produk, dan berorientasi pada pengalaman wisata yang autentik dan berkelanjutan.
Tourist Experience melalui Inovasi Cooking Class From Farmer to Table di Desa Wisata Panji
Tembus Jurnal Bereputasi Global: Denpasar Institute Buka Kelas Intensif Penulisan Publikasi Ilmiah
Perkuat SDM Desa Wisata Panji, Tim Pengabdi Undiksha Hadirkan Pelatihan Bahasa Inggris yang Praktis dan Menyenangkan
Bebas Plagiarisme: Denpasar Institute Sediakan Layanan Plagiarism Check Akurat Menggunakan Sistem Mutakhir
Menjembatani Bahasa dan Budaya: Program BIPA Denpasar Institute Mudahkan Mahasiswa Asing Beradaptasi di Bali
Peran Indonesia dalam Bidang Pendidikan di ASEAN
Pola Komunikasi Publik di tengah Pandemi Covid-19
TUMPEK LANDEP–LANDUHING IDEP: RESEARCH METHOD UNTUK MENJAGA KETAJAMAN INTELEGENSI DAN INTELEKTUAL
Pariwisata di Masa Pandemi Covid-19
SADHAKA SANG SISTA: TEMPAT MEMINTA AJARAN DAN PETUNJUK SUCI