Perkuat SDM Desa Wisata Panji, Tim Pengabdi Undiksha Hadirkan Pelatihan Bahasa Inggris yang Praktis dan Menyenangkan

  • Dibaca: 27 Pengunjung
  • |
  • 15 Agustus 2026
  • |
  • Kontributor: Gede Fabian

Sesi Foto Bersama Seusai Kegiatan Abdimas, Pelatihan Bahasa Inggris Dasar di Desa Panji, Singaraja (Sabtu, 15/8/2026)

Singaraja, Bali— Penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi salah satu fondasi penting dalam mewujudkan desa wisata yang berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan. Komitmen tersebut terus diwujudkan melalui program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh Tim Pengabdi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Desa Wisata Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali.

Dalam rangka meningkatkan kesiapan masyarakat dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan mancanegara, Tim Pengabdi Undiksha menyelenggarakan pelatihan bahasa Inggris praktis dan komunikatif bagi anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Kelompok Perempuan Eco Village Homestay Desa Panji.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program hibah pengabdian kepada masyarakat Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Dalam pelaksanaan program tersebut, Prof. Dr. I Nengah Laba, dosen Universitas Dhyana Pura (Undhira), turut berperan sebagai anggota Tim Pengabdi bersama Tim Pengabdi Undiksha.

Keterlibatan lintas perguruan tinggi tersebut memperkuat pendekatan kolaboratif dalam pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam mengintegrasikan keahlian akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat desa wisata.

Bahasa Inggris Berbasis Kebutuhan Pariwisata

Pelatihan yang dipandu oleh Prof. Dr. I Nengah Laba dirancang menggunakan pendekatan practical, communicative, and context-based English, sehingga materi tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori, tetapi langsung dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat ketika berinteraksi dengan wisatawan.

Peserta diperkenalkan pada berbagai ungkapan dan pola komunikasi sederhana yang dapat digunakan dalam aktivitas pariwisata, mulai dari menyambut wisatawan, memperkenalkan diri dan desa, menjelaskan produk wisata, hingga menjelaskan kegiatan cooking class.

Pendekatan tersebut memungkinkan peserta belajar melalui praktik langsung. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga melakukan simulasi percakapan, role play, dan latihan komunikasi yang menyerupai situasi nyata di lapangan.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif, hangat, dan penuh antusiasme. Para peserta, khususnya anggota kelompok perempuan, tampak semakin berani mencoba menggunakan bahasa Inggris meskipun masih dalam bentuk ungkapan sederhana.

Prof. Dr. I Nengah Laba menyampaikan bahwa pembelajaran bahasa Inggris bagi masyarakat desa wisata perlu dimulai dari kebutuhan komunikasi yang benar-benar mereka hadapi.

“Tidak harus langsung menggunakan bahasa Inggris yang sulit. Kita mulai dari kalimat-kalimat sederhana yang memang mereka perlukan ketika bertemu wisatawan. Dengan cara seperti ini, mereka akan lebih cepat memahami, berani mencoba, dan akhirnya menjadi percaya diri,” ungkap Prof. Laba.

Menurutnya, kemampuan bahasa Inggris dalam konteks desa wisata bukan semata-mata persoalan penguasaan bahasa, tetapi merupakan bagian dari service quality, hospitality, dan tourist experience, Masyarakat yang mampu berkomunikasi dengan baik memiliki peluang lebih besar untuk menjelaskan keunikan desa, memperkenalkan budaya lokal, serta membangun interaksi yang lebih autentik dengan wisatawan.

Pembelajaran menjadi semakin bermakna karena peserta memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan komunikasi secara langsung bersama wisatawan asal London, Jennifer dan Haneella, yang hadir dalam rangkaian kegiatan pengembangan *cooking class* Desa Wisata Panji.

Interaksi tersebut menjadi bentuk *experiential learning* yang mempertemukan materi pelatihan dengan konteks komunikasi yang sesungguhnya. Para peserta mencoba menyapa wisatawan, memperkenalkan bahan pangan lokal, menjelaskan proses memasak, dan berkomunikasi selama berlangsungnya pengembanagan aktivitas cooking class.

Pengalaman tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk membangun keberanian dan kepercayaan diri. Pada saat yang sama, wisatawan memperoleh pengalaman yang lebih personal karena dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal dan mengenal kehidupan serta budaya Desa Panji dari perspektif masyarakatnya sendiri.

Salah seorang peserta, Biang Yoni, anggota Pokdarwis sekaligus Kelompok Perempuan Eco Village Homestay Desa Panji, mengungkapkan apresiasinya terhadap kegiatan tersebut.

“Saya sangat senang diajarkan bahasa Inggris oleh Prof. Laba. Cara menjelaskannya sederhana dan mudah dipahami. Sekarang saya merasa lebih percaya diri untuk mencoba berbicara dengan wisatawan asing. Terima kasih karena sudah datang dan mengajarkan kami,” ungkap Biang Yoni.

Penguatan SDM dan Pengembangan Produk Wisata

Selain pelatihan bahasa Inggris, kegiatan pengabdian juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan peralatan cooking class sebagai bagian dari strategi penguatan produk wisata berbasis potensi lokal.

Peralatan tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan paket cooking class Desa Wisata Panji dengan konsep from farmer to table, yaitu pengalaman wisata yang menghubungkan wisatawan dengan proses pengenalan bahan pangan lokal, pengolahan makanan, hingga menikmati hasil masakan secara bersama-sama.

Konsep tersebut tidak hanya menawarkan aktivitas memasak, tetapi juga menghadirkan narasi mengenai pertanian, pangan lokal, budaya kuliner, kehidupan masyarakat, dan kearifan lokal Bali. Dengan demikian, cooking class dapat dikembangkan sebagai produk wisata edukatif sekaligus pengalaman budaya yang memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Sinergi antara peningkatan kompetensi SDM, pengembangan produk wisata, dan interaksi langsung dengan wisatawan menjadi strategi penting untuk memperkuat tourist experience di Desa Wisata Panji.

Pengabdian yang Berkelanjutan dan Berbasis Kebutuhan Masyarakat

Ketua Tim Pengabdi Undiksha, Dr. Nyoman Dini Andiani, menegaskan bahwa program pendampingan di Desa Wisata Panji tidak dirancang sebagai kegiatan yang bersifat sesaat, melainkan sebagai proses pemberdayaan yang dilakukan secara berkelanjutan.

“Tim Pengabdi Undiksha tidak hanya hadir satu atau dua kali. Kami terus berusaha membersamai masyarakat dan memberikan pendampingan sesuai dengan kebutuhan mereka. Ketika masyarakat membutuhkan penguatan produk, kami dampingi pengembangan produknya. Ketika membutuhkan peningkatan kapasitas SDM, kami hadir melalui pelatihan. Prinsipnya, pengabdian harus benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat,” jelas Dr. Nyoman Dini Andiani.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya diarahkan pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada capacity building, pendampingan, penguatan kelembagaan, dan pengembangan inovasi berbasis potensi lokal.

Dalam konteks Desa Wisata Panji, peningkatan kemampuan bahasa Inggris menjadi semakin strategis seiring dengan meningkatnya peluang interaksi masyarakat dengan wisatawan mancanegara. Kompetensi komunikasi memungkinkan masyarakat mengambil peran yang lebih besar dalam rantai nilai pariwisata, bukan hanya sebagai penerima wisatawan, tetapi sebagai host, interpreter of local culture, tourism product provider, dan pelaku ekonomi lokal.

Menuju Desa Wisata yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan

Kolaborasi antara Undiksha dan Universitas Dhyana Pura melalui program hibah pengabdian masyarakat DRTPM Kemendiktisaintek ini memperlihatkan pentingnya sinergi perguruan tinggi dalam mendukung transformasi desa wisata.

Melalui pendekatan yang mengintegrasikan penguatan kapasitas SDM, kompetensi bahasa Inggris, pengembangan produk, digitalisasi promosi, dan pengalaman wisata berbasis masyarakat, Desa Wisata Panji memiliki peluang untuk terus meningkatkan kualitas layanan sekaligus memperkuat identitasnya sebagai destinasi wisata berbasis komunitas.

Belajar bahasa Inggris, memasak bersama wisatawan, mengenalkan bahan pangan lokal, menceritakan budaya desa, dan berbagi pengalaman kehidupan masyarakat bukan sekadar aktivitas wisata. Seluruh proses tersebut merupakan bagian dari upaya membangun authentic tourist experience yang memberikan manfaat bagi wisatawan sekaligus memperkuat posisi masyarakat sebagai aktor utama pembangunan pariwisata.

Program ini sekaligus merefleksikan semangat Undiksha Berdampak, bahwa ilmu pengetahuan dan keahlian akademisi tidak berhenti di ruang kelas dan kampus, tetapi hadir di tengah masyarakat untuk menjawab kebutuhan nyata, meningkatkan kapasitas SDM, mengembangkan potensi lokal, dan mendorong terwujudnya desa wisata yang mandiri, berdaya saing, serta berkelanjutan.

Dengan pendampingan yang konsisten dan kolaborasi lintas disiplin serta lintas perguruan tinggi, Desa Wisata Panji diharapkan semakin mampu menghadirkan pengalaman wisata yang autentik, berkualitas, dan berakar pada kekuatan masyarakat serta potensi lokalnya.
 

  • Dibaca: 27 Pengunjung
  • |
  • 15 Agustus 2026