Pariwisata berbasis Desa: Desa Wisata untuk keberlanjutan Pariwisata Bali

  • Dibaca: 523 Pengunjung
  • |
  • 26 Oktober 2021
  • |
  • Kontributor: Nyoman Cahyadi

Tjok Gde Romy Tanaya S.Sos, plt Sekretaris Disparbud Klungkung, mengenakan seragam coklat, berpose bersama tim PKPN dari kiri Dr. I Nengah Laba, Komang Astari, S.M, Cahyadi Wijaya, A.Md.Par., S.Tr.Par dan Dwija Suastana, S.H., M.H

Selama pandemi COVID-19, destinasi perkotaan di Bali seperti di kawasan kuta, nusa dua, sanur dan ubud mengalami penurunan kunjungan wisatawan baik lokal atau asing, namun yang menarik adalah di kawasan bali utara, terjadi pembangunan coffe shop yang masif di kawasan kintamani dan terbentuk pola kesadaran masyarakat bali utara akan efek pariwisata, sehingga banyak terbentuk desa-desa wisata dengan masing-masing daya tariknya yang unik, Menurut Tjok Gde Romy Tanaya, S.Sos, selaku plt sekretaris Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Klungkung "bahwasannya Klungkung sebagai kabupaten yang terkenal dengan ikon tukad unda, memiliki 19 desa wisata dan ada 3 desa wisata yang menurut data kunjungan mengalami peningkatan yakni desa wisata bakas, desa wisata kaan dan desa wisata paksebali"

“Kami senang tim Pusat Kajian Pariwisata Nusantara (PKPN) berkunjung dan berbincang terkait persoalan pariwisata di Klungkung, khususnya terkait Desa Wisata. Persoalan klasik yang masih belum terselesaikan dari dulu adalah memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat di Desa Wisata bahwasannya pariwisata ini harus mulai di kembangkan dan mulai di lirik sebagai salah satu potensi ekonomi kerayakatan" Tambah Tjok Romy.

Dalam audiensi tersebut, tim dari Pusat Kajian Pariwisata Nusantara mengparesiasi kabupaten klungkung melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Klungkung dalam memajukan pariwisata di kabupaten Klungkung

Beberapa hasil audiensi PKPN dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Klungkung:

  1. Pembangunan pariwisata di Provinsi Bali kedepan harus mulai melirik desa sebagai potensi pariwisata kerakyatan yang berkelanjutan
  2. Kedepan, perlu adanya edukasi dari praktisi, pemerhati dan best practice dari kelompok sadar wisata desa wisata yang sudah sukses agar terbentuk katalisator yang mutualtif
  3. Mengingat pariwisata Bali adalah berbasis kebudayaan, perlu adanya konservasi terhadap kebudayaan tersebut, agar jangan sampai kebudayaan asli dan autentik tersebut di komersialisasi dan di kapitalisasi
  4. Mengingat salah satu point Sustainbilit Development Goals (SDGs) yang di canangkan United Nation World Tourism Organization (UNWTO) bahwasannya penggunan lahan sebaiknya mulai di tinjau ulang, dimana kawasan hijau dan bebas pembangunan, agar jangan lampai lahan-lahan hijau tersebut dibiarkan di bangun sebuah atraksi pariwisata buatan yang bersifat sementara dan tidak ada keberlanjutannya.
  5. Pemutakhiran pemetaan dan investarisasi potensi setiap desa wisata di kabupaten Klungkung 

Dr. Laba, Astari, Cahyadi dan Dwija tim dari PKPN menyampaikan apresiasi atas kesediaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Klungkung melalui Plt Sektretaris Tjok Gde Romy Tanaya, S.Sos dalam menerima audiensi ini dan mohon perwakilan dari dinas untuk menullis artikel di book chapter seri kedua yang digagas oleh PKPN Bali bekerjasama dengan Forum Penulis dan Penerbit Indonesia (FORPIN)

“Ke depan sinergi dan kerjasama perlu terus diupayakan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat desa, agar desa dapat menjadi salah satu potensi pariwisata berbasis desa yang berkelanjutan,” harap Dr. Laba yang kesehariannya bekerja sebagai Dosen, Peneliti, Auditor dan Reviewer.

Di sela-sela diskusi, Dwija Suastana selaku Peneliti PKPN juga kembali menekankan agar keterlibatan Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) dalam pemetaan potensi desa wisata terus di tingkatkan dan terus di edukasi.

  • Dibaca: 523 Pengunjung
  • |
  • 26 Oktober 2021