Pesan positif Covid 19 (Corona Virus Diseases 2019)

  • Penulis: I Wayan Sugita
  • Dibaca: 299 Pengunjung

Kalau kita cermati kehidupan ini, dengan memahami bahwa selalu ada hal yang positif dan negatif yang terjadi, yang dialami, yang dilihat maupun rasakan, ada yang baik ada yng tidak baik, ada yang suka dan ada yang tidak suka dan selalu ada yang berlawan dalam kehidupan kita. Begitulah keseharian yang kita lihat dalam kasad mata tidak ada sesuatu hal yang mulus lurus terus tanpa suatu masalah dan hambatan dalam setiap tindakan yang kita lakukan. Sama seperti dalam hal kita menelusuri perbukitan nan jauh dan berliku liku, naik turun perbukitan, kadang bisa berjalan cepat dan pelan saat jalan naik, berhati hati saat melintasi pinggiran tebing begitu juga kadang ada saatnya harus berhenti sejenak mengumpulkan tenaga untuk beberapa saat untuk bisa mulai berjalan kembali menaiki nyusuri perbukitan sesekali juga harus menoleh kesamping kanan kiri jurang yang dalam agar tidak terpleset jatuh. Demikianlah dunia dan bumi tempat kita berpijak ini bergerak mempengaruhi kehidupan segala mahkluk dunia yang ada di bumi ini.

Bali sebagai daerah tujuan pariwisata terkenal melalui konsep wisata budaya sangat kental dan erat kaitannya dengan budaya Bali utamanya budaya Hindu dan Agama Hindu yang tidak bisa dilepaskan dengan kehidupan adat istiadat Bali seperti telah menyatu adanya. Dalam kepercayaan Hindu ada yang disebut dengan Rwa Bhineda yaitu dua hal yang berbeda atau berlawanan. Hal ini disebutkan dalam kitab Ramayana: Pasang putih tulya mala mangeliput m luput sareng sadu (pasangan atau lawan dari putih yaitu hitam yang bagaikan kegelapn yang melupi diri manusia tetapi orang bijaksana bebas dari kegelanpan itu). Kegelapan atau kebingungan itu ada dua macam yaitu gelap pikiran berarti tak tenang dan gelap hati berarti berperasaan gelisah. Orang yang kegelapan disebut orang yang dalam keadaan duka. Lawan dari kegelapan itu adalah terang yaitu terang pikiran yang berarti berpikiran terang hati dan tenang berarti berperasaan senang /suka. Sehingga Rwa Bhineda adalah suka duka (Partia, 2001). Sudah sejak lama sejak pariwisata mulai ada di Bali, Bali sudah menikmati hasil pariwisata sampai menjadi terkenal sekarang ini ke seluruh dunia bahkan mereka mengatakan bukan berwisata namanya kalau belum mengunjungi Bali. Sehingga perkembangan pariwisata Bali melesat cepat dan tidak bisa dibendung, terus melonjak dan meningkat seiiring dengan program pemerintah yang ingin memajukan sektor pariwisata. Pemerintah pusat pun akhirnya pada tahun 2019 memutuskan untuk meciptakan 10 Bali baru guna pemerataan pundi-pundi pariwisata ke seluruh wilayah Indonesia. Hal ini belum tentu bisa disamakan dengan Bali, karena Bali memang mempunyai ciri khas tersendiri. Namun dibalik itu sayangnya terjadi bahwa program pengembangan pariwisata budaya Bali sudah agak kebablasan sudah mulai keluar dari pakem budaya.

Perkembangan pariwisata Bali kurang sejalan dengan konsep-konsep yang dimiliki Bali seperti Tri Hita Karana dalam rangka menghormati dan mencintai alam Bali ini. Walaupun program dan wacana perbaikan kearah itu sudah banyak di wacanakan namun eksekusi dan tidak lanjutnya masih terlalu lemah, terlalu condong dengan alasan ekonomi bisnis semata tanpa memperhatikan keseimbangan alam. Perlu disadari bahwa alam dan budaya ini sebenarnya aset terbesar dalam usaha pariwisata yang tidak pernah diinvestasikan oleh para pelaku pariwisata. Dampak pengembangan pariwisata yang berlebihan khusunya bagi lingkungan kecendrungan kurang memberikan dampak positif. The environmental impact of tourists is generally ‘bad’. The continued presence of large numbers of tourists results in the degradation of the natural environment, through direct impact on the physical environment, through inappropriate use of land and water resources and through putting excessive pressure on the built environment, especially in the case of historical and cultural buildings. Dampak lingkungan dari wisatawan umumnya 'buruk'.

Kehadiran wisatawan dalam jumlah besar yang terus-menerus mengakibatkan degradasi lingkungan alam, melalui dampak langsung pada lingkungan fisik, melalui penggunaan sumber daya tanah dan air yang tidak tepat dan dengan memberikan tekanan berlebihan pada lingkungan yang dibangun, terutama dalam hal sejarah dan bangunan budaya(Beech & Chadwick, 2006:6). Disisi lain juga ada hal yang kurang mendapatkan perhatian pemerintah dan pemangku kebijakan dalam melaksanakan green design pariwisata Bali. Program kearah perbaikan dan wacana sudah banyak muncul baik lewat perda, FGD group discussion, sering juga diskusi dengan para pakar dan juga asosiasi pariwisata namun lagi lagi pelaksanaan kearah pariwisata berkelanjutan/ sustainable tourism practice sepertinya masih jauh dari harapan dan perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius. Apakah kita mengejar jumlah wisatawan atau mengatur keseimbangan sehingga alam tetap terjaga pariwisata tetap berjalan selamanya dengan kualitas baik tanpa terlalu banyak merusak lingkungan. Istilah Balinya cenik lantang (kecil panjang) dan berkualitas sehingga dirasakan manfaatnya bagi kebanyakan orang. Hal ini perlu menjadi pertimbangan dan perhatian para pemangku kebijakan sesegera mungkin jika menginginkan perubahan pariwisata Bali. Pengembangan pariwisata sudah barang tentu ada dampak buruk maupun dampak baiknya. Seperti hal nya Rwa Bhineda, dua hal yang berbeda, dalam suatu perjalan akan selalu ada hambatan, kecil atau besar terkadang tidak terasa. Selalu akan ada hambatan yang akan membuat pariwisata Bali mungkin berbenah lebih baik ataupun juga menjadi kurang baik bahkan terpuruk.

Pariwisata sebenarnya bersifat fragile mudah rusak dan sensitive karena sangat rentan dengan isu isu negatif, dan keamanan yang mempengaruhi kondisi pariwisata itu sendiri (Wisnawa, Prayogi, & Sutapa, 2019:4). Banyak yang bisa kita lihat sebagai contoh seperti kondisi keamanan, kondisi politik, Bom Bali, Erupsi gunung Agung, dan sekarang adalah Covid 19 (corona virus diseases 2019) sedang mengancam pariwisata Bali bahkan dunia. Duka menyelimuti pariwisata Bali. Namun sebagai insan pariwisata tidak boleh larut dan berlama lama dalam posisi duka, tetap bersemangat, tetap bergerak bahkan bangkit dengat kebiasan baru yang lebih baik dan adaptable. Melakukan sesuatu yang bisa membuat kita merasa lebih lega dan lebih baik, jangan berhenti tetaplah berkarya dengan semangat baru. Dampak covid 19 ini bagi kebanyakan sangat menyakitkan, sebagian lagi beranggapan bahwa ada hal positif walaupun mungkin merupakan sesuatu hal kecil tetapi bermakna dan bermanfaat. Ternyata di balik masalah covid 19 ini banyak terjadi perubahan dan munculnya ide baru, kehidupan baru, pola baru dan juga kebiasaan baru. Dalam beberapa hal positif covid 19 bisa dilihat diantaranya: Membiasakan diri menggunakan masker Terhindar dari penyebaran virus corona menjadi sangat penting, maka kewajiban menggunakan masker untuk melindungi diri dan orang lain menjadi keharusan dan wajib masker. Di awal mula mungkin agak susah karena belum terbiasa, namun seiring waktu masyarakat wajib menggunakan masker apabila sakit atau kondisi kurang fit, bertemu dengan orang lain serta saat berada ditengah keramaian. Sebagian orang sudah mulai terbiasa memakai masker saat bepergian dan keluar rumah dan selalu siap kemanapun pergi seperti halnya wajib helm. Membiasakan diri untuk mencuci tangan Dalam kegiatan dan aktivitas sehari hari masyarakat akan lebih memperhatikan kebersihan, dengan mencuci tangan sebersih mungkin dengan sabun dan melaksanakan protokol kesehatan yang disarankan pemerintah. Setiap masuk ke suatu area, warung, toko, restaurant, hotel, bank, perkantoran dipastikan tersedia tempat mencuci tangan ditambah dengan hand sanitizer. Memastikan diri bahwa tangan selalu bersih sebelum makan, sebelum mengambil sesuatu akan menjadi hal baru dan itu artinya kita akan lebih rajin memperhatikan kebersihan tangan. Membiasakan untuk lebih sederhana dan bersahaja Kebiasaan baru juga muncul dengan budaya sederhana tanpa harus merendahkan diri. Sederhana dalam mejalani kehidupan bukan berarti merendahkan diri dengan memperhatikan keperluan berdasarkan skala prioritas yang terpenting yang diperlukan. Bersyukur akan apa yang diterima saat ini, bersahaja dan lebih memperhatikan fungsi mejadikan prioritas untuk dibeli daripada sekedar konsumtif belaka. Kesederhanaan bisa membiasakan untuk selalu ada perencanaan akan berbuat sesuatu sehingga terarah dan bermanfaat serta tidak mubazir. Membiasakan makan makanan sehat dan bergizi Dalam kesederhanaan sehari hari tentu kita tidak boleh menjadi kurang sehat atau tidak sehat. Menjaga imun kita sangat penting untuk bisa terproteksi dari segala macam virus dan penyakit.

Pemilihan menu makan yang sederhana dan bergizi dan bermanfaat menjadi penting, tidak hanya sekedar makan kenyang dan banyak tetapi pilihan menu yang menyehatkan akan menjadi kebiasaan baru dalam rumah tangga. Makan makanan sehat akan sangat membantu untuk menjaga kondisi tubuh tetap segar bugar dan sehat dengan asupan gizi yang cukup. Bila perlu juga mengkonsumsi herbal dan jamu buatan sendiri akan menjadi kebiasaan tersendiri seperti minum teh jahe, jahe hangat, jamu kunyit, ramuan temulawak jahe dsb. Membiasakan diri lebih dekat dengan keluarga Dampak virus corona ini juga memaksa kita untuk melakukan banyak kegiatan dilakukan di rumah, work from home, learn from home dan secara daring bermanfaat bagi peningkatan quality time untuk keluarga. Waktu untuk keluarga menjadi tersedia lebih banyak, komunikasi dengan anak, istri, suami, mertua dan semua keluarga menjadi lebih efektif, dekat dan banyak ngobrol serta berkomunikasi lebih sering. Sebelumnya mungkin family time sangat terbatas karena kesibukan akan pekerjaan dikantor dan diluar rumah. Sehingga kadang kadang menyebakan kedekatan akan keluarga dan anak menjadi renggang. Namun covid ini mendekatkan kembali para keluarga menjadi lebih atraktif dan dekat, sehingga kwalitas hubungan antara anggota keluarga menjadi lebih baik. Membiasakan diri berolah raga Berolah raga seharusnya sudah menjadi kebiasaan untuk selalu hidup lebih sehat dan bugar namun kenyataannya masih banyak orang yang mengabaikan olah raga dalam kehidupan sehari harinya. Padahal sudah tahu bahwa berolahraga itu penting bagi kesehatan sesuai dengan anjuran hidup sehat. Kadang banyak yang abai entah karena alasan sibuk bekerja, tidak ada waktu karena bisnis, kesibukan lain atau memang malas. Situasi karena covid ini banyak orang yang mulai membiasakan diri berolah raga di rumah seperti, yoga, senam, olahraga di halaman rumah, bersepeda, jalan jalan disekitar rumah dan aktivitas olah raga lainya untuk bisa terjaga kebugaran saat pandemi covid 19 ini. Banyak orang mulai membiasakan diri berolah raga supaya menjadikan kondisi tubuh menjadi lebih fit. Membiasakan untuk berkarya dan kreativitas usaha Secara umum kondisi perekonomian menjadi lesu dan melemah akibat dampak covid 19 apalagi Bali hanya mengandalkan pariwisata sebagai sektor ekonomi unggulan sangat merasakan dampak tersebut. Banyak usaha yang tutup, operasional hotel, restaurant dan kegiatan lainnya terhenti. Perputaran usaha melemah bahkan tepuruk, banyak karyawan yang sudah dirumahkan memaksa harus memutar otak dan pikiran untuk berbuat dan melakukan sesuatu dengan inovasi baru untuk bisa bertahan agar dapur tetap mengepul untuk kebutuhan makan sehari hari. Maka menjadi kebiasaan untuk membuat usaha kecil kecilan yang bisa dijalankan dan sangat kreatif seperti, usaha kue bolu, piscok, pisgor, nasi jingo, jualan sembako, nasi goreng, bakso, sambel, kripik, telor, abon dll dengan berbagai kemasan yang menarik, di pasarkan secara online lewat media sosial ditambah dengan seremonial video serta gambar yang menarik serta testimoni dari para pembeli. Ini merupakan cara baru yang berbeda dan inovasi baru sesuai dengan cara kekinian. Usaha dagang dan jualan menjadi rame dan bermunculan, menciptakan model dan kreatifitas tersendiri, memiliki waktu lebih untuk fokus bejualan dan melakoni bisnis baru.

Oleh Wayan Sugita, A.Md.Par., SS. Resident Manager The Magani Hotel and Spa, Legian Advisor Hotel Front Liners Association Bali (HFLA BALI) Head of Certification and Development, Indonesia Hotel Front Liners Association

DAFTAR PUSTAKA

Beech, J., & Chadwick, S. (2006). The Business of Tourism Management. In Financial Times Management. https://doi.org/10.1016/S0160-7383(03)00054-9 Partia, I. G. R. (2001).

Rwa Bhineda Memahami Makna Suka dan Duk. Retrieved June 6, 2020, from www.phdi.or.id website: https://phdi.or.id/artikel/rwa-bhineda-memahami-makna-suka-dan-duka. 

Wisnawa, I. M. B., Prayogi, P. A., & Sutapa, I. K. (2019). Manajemen Pemasaran Pariwisata Model Brand Loyalty Pengembangan Potensi Wisata di Kawasan Pedesaan. Denpasar: Deepublish.