RUMAH ARAK: Kearifan Lokal adalah Suara “IBU PERTIWI”

  • Dibaca: 207 Pengunjung
  • |
  • 14 Juni 2021

Ketut Darmayasa,S.IP,MM, CHT, Penulis Buku 'Penulis, Ketut Darmayasa,S.IP,MM, CHT, Penulis Buku '

Tidak bisa dipungkiri bahwa arak Bali sebagai salah satu warisan budaya leluhur orang Bali sudah ada sejak zaman dulu. Kini keberadaannya tetap dijaga, diperhatikan dan dilestarikan. Untuk melindungi warisan leluhur ini, sudah seharusnya Arak Bali mendapatkan pemuliaan layaknya memuliakan 'Ibu Pertiwi' melalui berbagai upaya untuk diwariskan kepada anak cucu.

Pemuliaan ini sudah dimulai dari jaman dahulu dimana masyarakat Bali telah mengenal dan menggunakan arak Bali sebagai sarana jamuan. Para raja melakukan ritual dalam menjamu tamu kerajaan dengan satu sloki arak sebagai bentuk penghormatan. Dari dulu arak juga digunakan sebagai sarana upacara.  Pada tiap ritual upacara keagamaan baik upacara dewa yadnya, pitra yadnya, Rsi yadnya, manusa yadnya , maupun bhuta yadnya umat hindu selalu menyuguhkan arak sebagai sarana pengastawa kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa, Tuhan yang Maha Esa. Dalam konteks ini, arak adalah simbul aksara suci ahkara. Hal ini terkait dengan mantra pengastawa sehubungan dengan Utpeti, Stiti dan Pralina dengan menggunakan dasar dari sastra Rwa bhineda. Arak Bali sebagai warisan budaya leluhur Bali sepatutnya juga mendapatkan pemuliaan dan pemajuan dari sisi kualitas agar memiliki standar mutu nasional dan internasional. 

Di lain sisi, Arak juga digunakan sebagai sarana usadha atau pengobatan. Ketika dunia medis belum berkembang pesat, banyak masyarakat mengatasi sakit dengan menggunakan arak. Salah satunya seperti sakit perut dengan cara sederhana mengoleskannya ke perut. Selain itu, banyak masyarakat menggunakan arak ketika sakit gigi dengan cara menggunakannya sebagai kumur dan rasa sakit ini langsung hilang.

Jika dilihat dari sisi pengembangan ekonomi makro, Arak Bali secara legitimate sudah dipakai sebagai sarana penunjang ekonomi. Industri rumah tangga pembuatan arak mampu membiayai kehidupan  keluarga. Masyarakat pengrajin arak di Bali sampai saat ini masih dilakukan meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi. Saking banyak dan luasnya pengembangan dan pembuatan arak Bali baik secara tradisional maupun secara pabrikan, maka dipandang penting untuk meningkatkan kualitas produk arak. Ini penting dilakukan demi dan untuk masyarakat Bali. Kualitas dan daya saing perlu ditingkatkan untuk mampu bersaing dengan produk sejenis dari luar daerah ataupun dari luar negeri. Salah satu kita yang dapat dilakukan adalah mengembangkan produk arak sesuai dengan kebutuhan pasar.

Memahami hal ini, Bali sangat memungkinkan untuk dijadikan percontohan sentra minuman fermentasi dan/atau destilasi tradisional khas nusantara melalui pemberdayaan UKM dan IKM dengan sentuhan dan tata kelola yang lebih baik. Di sinilah peran pemerintah sebagai regulator diharapkan mampu menginisiasi lahirnya legalitas arak sebagai minuman beralkohol dengan ijin usaha industri yang dikeluarkan oleh kementrian perindustrian RI dan/atau tanda daftar industri yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten/kota. Ini dilakukan agar pengrajin arak bisa bergandengan tangan untuk mengembangkan produk minuman fermentasi dan atau destilasi khas Bali sebagai sarana alternatif untuk pemulihan  ekonomi Bali.

Sinergi antara pemerintah, masyarakat dan pengusaha sangat diperlukan untuk keberlangsungan produk arak Bali untuk meningkatkan kualitas & branding arak Bali di mata pasar domestik dan internasional. Sinergitas ini perlu keberlangsungan dan perhatian dari semua stakeholders serta perlu dimonitor setiap saat.

Pengembangan kawasan sentra minuman tradisional khas Bali ini memerlukan bantuan likuiditas untuk restrukturisasi, relaksasi dan bantuan permodalan. Hal ini tentunya memerlukan kebijakan khusus dari pemerintah daerah dengan penyesuaian atau link match dengan peraturan dan perundangan yang berlaku di pusat. Pengembangan industri arak akan mampu menggerakkan sektor riil dalam menggerakkan roda ekonomi Bali. 

Penulis, Ketut Darmayasa,S.IP,MM, CHT, Penulis Buku '"BARAK: Balinese Arak dan Ketua IFBEC-Bali

  • Dibaca: 207 Pengunjung
  • |
  • 14 Juni 2021