Bali Cukup Pangan? Audiensi Pusat Kajian Pertanian Bali ke Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali.

  • Dibaca: 449 Pengunjung
  • |
  • 11 Januari 2021

Ir. I Made Tresna Kumara, M.MA. Kabid Ketersediaan Distribusi dan Cadangan Pangan, mengenakan endek biru berpose bersama tim PUSKAPER Bali dari kiri Pande, Eka, Laba dan Widnyana

“Selama pandemi Covid-19, Bali memiliki kecukupan pangan untuk dikonsumsi masyarakat. Memahami potensi dan luas area pertanian dan perkebunan yang ada di Bali, kita mampu memenuhi kebutuhan pokok masyarakat. Hanya bawang putih dan cabe yang kadang masih perlu didatangkan dari luar Bali,” ungkap Ir. I Made Tresna Kumara, M.MA., Kabid Ketersediaan Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali saat menemui audiensi Pusat Kajian Pertanian Bali pada Senin, 11/1 di ruang kerjanya.

Tresna mengungkapkan berbagai upaya telah dilakukan untuk mengantisipasi krisis pangan di Bali. Salah satu di antaranya bekerjasama dengan beberapa kelompok tani yang ada di tiap kabupaten, terutama terhadap kecukupan ketersediaan beras.

“Kami senang tim Pusat Kajian Pertanian (PUSKAPER) Bali berkunjung dan berbincang terkait persoalan pertanian di Bali. Persoalan klasik yang masih belum terselesaikan dari dulu adalah kepastian harga di tingkat petani, supply dan demand, serta perda khusus yang mengatur hal tersebut. Ke depan, PUSKAPER Bali bisa bekerjasama untuk merancang naskah akademik bidang pertanian, bersama-sama dinas pertanian memutakhirkan data lahan pertanian, data subak dan data terkini jumlah petani aktif. Kemutakhiran data dan pemetaan juga menjadi kendala kita bersama”, tambah Tresna yang alumni Universitas Mataram.  

Dalam audiensi tersebut, tim dari Pusat Kajian Pertanian Bali mengapresiasi kemampuan Provinsi Bali dalam menyediakan pangan yang cukup bagi masyarakat di tengah krisis ekonomi dan krisis kesehatan saat ini.

Beberapa hasil audiensi PUSKAPER Bali dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali adalah sebagai berikut: 

  1. Pembangunan pertanian di Provinsi Bali bisa fokus pada hasil pertanian terpadu (tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan), penggunaan pupuk organik dengan budidaya ternak sapi, babi dan ternak lainnya.
  2. Ke depan BUMDES dapat dilibatkan secara lebih intensif untuk meningkatkan ekonomi kerakyatan yang berbasis pertanian dalam arti luas untuk menghasilkan produksi dan produktivitas pertanian berorientasi pada nilai ekonomi
  3. Mengingat ketahanan kesegaran hasil pertanian menjadi salah satu kendala petani di Bali, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali sudah memiliki cold storage yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok tani.
  4. Untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian perlu terus diupayakan integrasi dengan ternak sapi, ternak bali dan penguatan pertumbuhan kesadaran terhadap penggunaan pupuk organik.
  5. Pemutakhiran data subak atau lahan pertanian perlu dilakukan secara berkala, minimal setahun sekali.

Prof. Widnyana didampingi Dr. Laba, Eka dan Pande tim dari PUSKAPER Bali menyampaikan apresiasi atas kesediaan kepala Dinas yang diwakili oleh Kabid Ketersediaan Distribusi dan Cadangan Pangan dalam menerima audiensi ini dan mohon perwakilan dari dinas untuk menullis artikel di book chapter yang digagas oleh PUSKAPER Bali bekerjasama dengan Penerbit YAGUWIPA.

“Ke depan sinergi dan kerjasama perlu terus diupayakan untuk meningkatkan produktivitas pertanian dan bersama menemukan solusi alternatif terhadap persoalan pertanian,” harap Prof. Widnyana yang kesehariannya bekerja sebagai akademisi dan peneliti lapangan bidang pertanian.

Di sela-sela diskusi, Prof. Widnyana juga kembali menekankan agar keterlibatan bumdes dalam upaya peningkatan hasil pertanian dan keberpihakan geliat ekonomi dapat dilakukan mulai dari usaha di tingkat desa, terutama di masa pandemi ini dimana Kota telah kehilangan berbagai jenis pekerjaan.

  • Dibaca: 449 Pengunjung
  • |
  • 11 Januari 2021