Menjadi Petani Kreatif selama Pandemi Covid-19

  • Dibaca: 426 Pengunjung

Prof. Dr. I Ketut Widnyana, M.Si., Guru Besar bidang Ilmu Pertanian

Menjadi Petani Kreatif selama Pandemi Covid-19

oleh

Prof. Dr. I Ketut Widnyana, M.Si.

Semenjak penghujung akhir tahun 2019 dan sampai saat ini DUNIA sedang dilanda  Pandemi COVID-19, dan belum ada negara yang dinyatakan bisa bebas dari dampak pandemi tersebut. Tidak saja berdampak pada kesehatan global, namun pandemi ini telah meluluh-lantakan sendi-sendi kehidupan secara social ekonomi pada negara adidaya sekalipun, apalagi pada negara-negara yang belum memiliki kemapanan secara finansial.  Di sektor pertanian, FAO sudah memperingatkan potensi krisis pangan global. Rantai pasokan pangan dunia juga terancam di tengah pemberlakuan lockdown suatu negara, karantina wilayah, pembatasan sosial, dan larangan atau pembatasan perjalanan. 

Indonesia dengan wilayah yang luas dengan 17 ribu lebih pulau menghadapi masalah dalam distribusi pangan dari pusat produksi menuju titik distribusi dalam berbagai lokasi. Pada satu sisi terdapat produksi pertanian yang berlebihan sehingga banyak petani yang membuang hasil usaha taninya terutama yang tidak bisa disimpan lama seperti sayur dan buah-buahan akibat kesulitan distribusi, namun disisi lain terdapat kelangkaan sumber pangan yang berdampak pada meningkatnya harga produk pertanian.

Pandemi COVID-19 telah berdampak buruk terhadap kepariwisataan di Bali yang selama ini dibanggakan sebagai sumber pendapatan utama masyarakat. Kerugian akibat pandemi ini pada pariwisata Bali mencapai Rp 9.7 Triliun setiap Bulan. Angka ini menunjukkan berbagai sektor yang terkait dengan dunia pariwisata mengalami pelumpuhan dan stagnasi yang luar biasa, yang melebihi dampak bom Bali 12 Oktober 2002. Kebutuhan finansial yang harus dipenuhi menyebabkan SDM pelaku pariwisata harus segera beralih ke sumber pendapatan lainnya yang selama ini dipandang sebelah mata, seperti bidang kuliner,  ataupun pertanian. Sumber pendapatan yang mendesak membutuhkan dinamika yang tinggi bagi SDM pariwisata dalam memilih peluang yang ada, secara professional maupun tidak.

Pandemi COVID-19 belum bisa dipastikan kapan akan berakhir, sehingga terdapat kemungkinan banyak SDM pelaku pariwisata yang terpaksa menekuni dunia pertanian terutama bagi yang masih memiliki lahan di daerah asal masing-masing. Pertimbangan utamanya adalah memenuhi kebutuhan keluarga untuk kebutuhan sehari-hari, dan bila berlebihan akan didistribusikan kepada lingkungan terdekat untuk mendapatkan tambahan pendapatan ataupun dibarter dengan kebutuhan lainnya yang tersedia pada lingkungannya. Usaha tani tidak membutuhkan keterampilan yang tinggi sehingga siapapun bisa melakukannya dengan belajar kepada petani lainnya. Berbagai jenis sayuran dapat dipanen dalam waktu singkat kurang dari sebulan, dan sumber pangan lainnya dalam waktu 2 atau 3 bulan. Bagi petani yang kreatif bisa berusaha tani dengan baik dengan melihat  kebutuhan masyarakat sekitar dan memadukannya dengan beternak ikan dan unggas (seperti ayam, entok, bebek). Pada akhirnya seiring dengan waktu maka kebutuhan sehari-hari akan terpenuhi dan peluang pendapatan dari usaha tani kreatif akan dapat menggantikan sumber pendapatan yang sebelumnya didapat dari dunia pariwisata.

 

 

  • Dibaca: 426 Pengunjung