New Normal: Normalisasi Pertanian ketika Pariwisata Normal

  • Dibaca: 549 Pengunjung

Ida Bagus Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si, Akademisi dan Pemerhati Pariwisata Budaya

New Normal: Normalisasi Pertanian ketika Pariwisata Normal

oleh

I.B. Purwa Sidemen, S.Ag., M.Si

Pertanian sebagai sebuah roda penggerak ekonomi masih bersifat tradisional konvensional di Bali. Keberlangsungan hidup masyarakat Bali sejak jaman dahulu bergantung pada sektor pertanian. Kehidupan masyarakat agraris di Bali dengan sistem subak menjadi satu cerminan bahwa pertanian merupakan penggerak ekonomi dan terbukti memiliki posisi sangat penting. Budaya Bali terlahir dari kehidupan masyarakat pertanian. Pertanian adalah hulu dari kebudayaan Bali. Pertanian menjadikan masyarakat Bali lekat dengan segala ritual keagamaam dan adat istiadat yang segala wujud persembahannnya berasal dari hasil pertanian. Hal ini merupakan bentuk sujud bakti manusia Bali kepada Ida Sanghyang Widi Wasa. Pertanian menumbuhkan segala sesuatu yang menjadi nikmatan dunia pariwisata seperti bentang alam pertanian, gunung, persawahan dan tegalan (dengan sistem subak), danau dan laut (daerah pesisir dengan sistem bendega), termasuk aktivitas kesenian, budaya, dan keramahtamahannya (hospitality). Ini bersumber dari tata kehidupan pertanian dalam wujud kongkritnya melalui tindakan gotong royong dan saling asah asih asuh, Salunglung Sabayantaka yang menjadi falsafah pola hidup masyarakat Bali. 

Di Bali, pariwisata berkembang pada era tahun 70-an (belum berumur ratusan tahun), sedangkan pertanian sudah menghidupi manusia Bali dan hidup ribuan tahun. Ini bukti tidak terbantahkan bahwa sedemikian penting dunia pertanian tersebut. Akan tetapi, geliat dan gemerlap pariwisata menyebabkan dunia pertanian berada pada posisi tidak sepenuhnya sebagai penggerak ekonomi unggulan dan dalam beberapa konteks mengubah pola socio-cultural life masyarakat Bali. Dunia pertanian semakin lama semakin terabaikan, karena tidak menarik untuk digeluti. Boleh dikatakan pertanian masih menjadi pelengkap. Generasi tua tidak sempat menyiapkan generasi penerus dalam dunia pertanian. Generasi tua pertanian Bali, malu bila anaknya menjadi petani dan mendorong untuk bersekolah yang sering tidak ada kaitan dengan pertanian. Karena pertanian dianggap pekerjaan kotor berlumpur. Pemerintah juga setengah hati membangun dunia pertanian. Sekolah-sekolah pertanian sangat sedikit bahkan jarang peminat dari generasi muda untuk bersekolah menggeluti pendidikan bidang pertanian.

Ibaratnya, dunia pertanian adalah gadis Bali yang kusam dan tidak menarik untuk dilirik, karena tidak bergincu dan berdandan cantik bak gadis model di industri pariwisata. Gadis asli Bali (baca: pertanian) hanya berbalur boreh tanpa gincu dan berbusana kain lembaran tidak memberikan pesona keindahan untuk dijamah. Miris sekali dan menjadikan gadis Bali ini semakin terlupakan, terpasung dan disembunyikan dari gemerlap pariwisata. Gadis Bali (pertanian) yang sesungguhnya cantik itu lambat laun diabaikan. Perbankan tidak tertarik memberikan bantuan pinjaman, pemerintah setengah hati, dunia akademis pertanian hanya sibuk pada penelitian dengan hasil penelitian sebagai penghias literasi ilmiah saja, sehingga pertanian semakin ditinggalkan.

Berbeda dengan gadis molek nan sexy yang bernama pariwisata. Semua meliriknya karena menjanjikan kemewahan dan glamour. Semua orang berbondong-bondong dan berebut, lalu beralih ke sektor jasa pariwisata. Hal ini menjadi wajar karena masyarakat menginginkan adanya perubahan hidup yang lebih baik. Praktisi pariwisata siap bersaing membangun kepariwisataan. Pun, siap bersaing dengan destinasi luar negeri. Bali harus siap bersaing dengan Singapore, Malaysia, Australia, Jepang, Thailand, dan negara destinasi pariwisata lainnya. Bukan Indonesia yang bersaing, tetapi Bali sebagai sebuah pulau kecil bagian dari Indonesia bersaing dengan negara lain. Ini tidak mudah dan kondisi ini menjadikan gairah persaingan semakin ketat. Dicetak Sumber Daya Manusia melalui sekolah pariwisata untuk menghasilkanan SDM kompeten. Berdiri sekolah-sekolah dan perguruan tinggi pariwisata untuk menyediakan SDM kepariwisataan yang memadai dan siap bersaing. Inilah kondisi yang ada bahkan hingga sekarang. Bali selain sebagai destinasi unggulan di sektor pariwisata, juga menjadi ‘lembah’ pencetak SDM pariwisata. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi SDM dan lembaga pendidikan bidang pertanian. Pertanian tidak memiliki rasa bersaing dengan daerah maupun negara lain. Pertanian tidak merasa perlu membangun dan menyiapkan SDM kompeten. Pertanian belum menjadi sebuah industri yang bisa bersinergi dengan pariwisata. Pertanian menjadi ‘abnormal’ akibat tidak sengaja terjepit ditengah industry pariwisata. Lalu, siapa yang harus bertanggugjawab atas kekeliruan ini? Kita semua, bukan siapa-siapa.

Ketika pariwisata sebagai penggerak perekonomian Bali melambat akibat pandemik Covid-19, pertanian kembali mulai dilirik dan beberapa pelaku pariwisata terpaksa beralih profesi menjadi ‘petani setengah rasa’. Dari sisi pergerakan ekonomi, pekerja bidang pariwisata yang beralih ke dunia pertanian kemungkinan hanya bersifat sementara (temporary). Hal ini dilakukan karena berbagai alasan yang melatar belakanginya. Salah satunya sebagai pengisi kegiatan di saat tidak beraktivitas di dunia pariwisata atau untuk mendapatkan hasil tambahan karena pariwisata sedang lumpuh.

Memahami kondisi ini, normalisasi  pertanian perlu terus diupayakan, meski ketika pariwisata sudah mulai normal. Sebab, leluhur dan para tetua Bali sudah memberikan pesan terselubung pada setiap kegiatan ritual keagamaan bahwa yang dihaturkan adalah produk atau hasil pertanian. Wujud syukur atas hasil pertanian yang melimpah dipersembahkan dalam bentuk sesaji yang unsur-unsurnya berasal dari hasil pertanian. Sarana upacara dan upakara di Bali sebagian besar berasal dari hasil pertanian. Ini artinya, para leluhur menyampaikan pesan, tanam dan pelihara tumbuh-tumbuhan dengan baik karena itu semua nanti akan dibutuhkan sebagai wujud persembahan. Kehidupan pertanianlah yang dimaksudkan. Mengupas pesan terselubung inilah kita belum pintar. Hanya melihat pada sisi kulit luarnya saja sehingga pertanian terlupakan.

Normalisasi pertanian dapat dilakukan dengan menyiapkan dan menata ulang bagaimana pertanian mampu bangkit dan bersinergi dengan pariwisata. Diperlukan juga sosialisai dan pemahaman yang baik kepada masyarakat bahwa dunia pertanian di era ini bukanlah sesuatu yang ‘menjijikkan’, tertinggal dan stigma negatif lainnya. Berikan pemahaman kepada masyarakat bahwa dengan perimbangan dan perkembangan Teknologi Informasi (TI) yang memadai, sektor pertanian sangat menjanjikan untuk digeluti sehingga pertanian dan pariwisata normal kembali. Perhatian pemerintah dapat diupayakan melalui pembangunan sarana penunjang, menyediakan pelatihan SDM pertanian, penelitian dan yang terpenting adalah pelatihan manajemen kepada generasi muda. Melalui skema ini, pertanian dan pariwisata akan terdorong menjadi sama-sama normal. Salam pariwisata dan mari bersama lakukan GNP, Gerakan Normalisasi Pertanian.

  • Dibaca: 549 Pengunjung